Curah hujan tinggi petambak Dipasena antisipasi akan serangan penyakit

pemberian oksigen dengan cara di kincir |Foto:Dinawan.c.d

Seperti kita ketahui, negara kita merupakan negara tropis yang memiliki dua musim di dalam satu tahun, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Kedua musim tersebut sangat berpengaruh terhadap budidaya udang terutama yang terkait dengan teknis budidaya.Menghadapi musim hujan petambak di kampung Bumi Dipasena Sejahtera,Kecamatan Rawajitu Timur,Kabupaten Tulang Bawang harus bekerja ekstra untuk mempertahankan kadar air pada tambaknya.Pasalnya, intensitas hujan yang tinggi membuat udang vanamei mudah terserang penyakit. Diantaranya adalah penyakit mencret atau kotoran putih atau White Feaces Disease (WFD).Penyakit udang mulai muncul karena cuaca tidak menentu. Serta campurnya air hujan yang kurang bersih membawa bakteri atau kuman. Hal ini membuat kondisi udang rawan diserang berbagai penyakit, salah satunya yaitu White Feaces Disease (WFD).

Seperti yang dialami petani tambak udang, Supriatno, warga kampung bumi dipasena sejahtera, Kecamatan rawajitu timur, Kabupaten tulang bawang tepatnya di blok 12 jalur 13 no 04. Kini dirinya sedang menanam 50 ribu udang vaname dengan luas lahan 1 Ha tambak.Petani udang yang sudah menggeluti aktivitasnya selama 30 tahun, menyebutkan saat musim hujan ini udang paling mudah diserang menyakit mencret atau diare. Terihat pada ekor udang mengeluarkan lendir.

Menurutnya, penyakit itu masih belum berbahaya, meski sebenarnya juga sangat mengkhawatirkan. Yang lebih perlu diantisipasi adalah sakit ekor merah (mio). Sakit ini tidak ada obat untuk mengilangkannya. Biasanya petani hanya menambahkan amino pada makanannya. Tujuannya agar rangsangan makan banyak dan udang tidak mati. “Di toko tidak ada obatnya. Kalau ada yang sakit mio kita ambil dan sterilkan ditempat penyembuhan,” ungkapnya.(16/3)

Cuaca kurang baik petambak was was kesehatan udangnya |Foto:Dinawan.c.d

Aktivitas udang juga menjadi lambat. udang akan bergerak lebih sedikit dan cenderung berkumpul di dasar tambak. Ini akan secara drastis meningkatkan kepadatan udang di dasar tambak. Bila ini terjadi, udang akan mengalami lebih banyak tekanan karena bersaing untuk mendapatkan oksigen dan ruang yang terbatas.Karena permukaan air lebih dingin, udang akan bergerak menuju daerah yang lebih hangat di dasar tambak yang merupakan area lumpur dan kadar oksigen rendah (selama turun hujan, kadar oksigen bisa menjadi nol). Di sini juga udang terkena gas H2S beracun dan bakteri patogen.

Langkah untuk mengurangi penyakit, setiap 2 hari sekali pihaknya memberikan kalsium. Agar mengeraskan kulit udang supaya tidak mudah terkena penyakit. Lahan tambak juga diberi kapur pertanian/kaptan, agar membuat hangat suhu air. Dengan itu, udang akan menyerap oksigen dan tidak mudah terserang flu.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan